Warung Bebas

Monday, 26 November 2012

LAPORAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI SMK

agunghanafi87@blogspot.com

DAFTAR ISI

Halaman Judul ………………………………………………………………………………………………
Pengesahan Ujian Praktek………………………………………………………………………………
Pengesahan Laporan………………………………………………………………………………………
Kata Pengantar……………………………………………………………………………………………….
Daftar  Isi………………………………………………………………………………………………………..
BAB I. PENDAHULUAN
Latar Belakang………………………………………………………………………………………………..
Maksud dan Tujuan…………………………………………………………………………………………
Metode Penulisan…………………………………………………………………………………………..
BAB II. PEMBAHASAN
Pemeriksaan Campuran…………………………………………………………………………………
Pemeriksaan Agregat…………………………………………………………………………………….
Sand Cone……………………………………………………………………………………………………..
Core Drill………………………………………………………………………………………………………..
Tack Coat……………………………………………………………………………………………………….
Extraksi………………………………………………………………………………………………………....
BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan…………………………………………………………………………………………………..
Saran…………………………………………………………………………………………………………….
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………………….
LAMPIRAN…………………………………………………………………………………………………….














B.      Maksud  dan Tujuan
                        Adapun tujuan di adakan praktek kerja industri yaitu:
-          Menambah wawasan tentang dunia kerja atau lapangan kerja yang relevan  dengan kejuruan masing-masing.
-          Memperoleh kesempatan untuk meningkatkan, memperluas dan memantapkan kemampuan kejuruan.
-          Memperoleh dorongan dan semangat untuk mempromosikan dirinya pada dunia kerja atau lapangan kerja yang relevan dengan kejuruan.

C.        Metode Penulisan
            Metode yang digunakan dalam penulisan laporan ini adalah wawancara atau orientasi  di lapangan dengan bimbingan dari guru pembimbing akademis dan pembimbing teknis serta literatur perpustakaan sekolah yang berkaitan dengan laporan praktek kerja industri.




































BAB II
PEMBAHASAN

Pemeriksaan Campuran
            Peralatan maksud untuk pemadatan briket aspal (campuran aspal) dan untuk penentuan ketahanan (stabilitas) terhadap kelelahan plastic (flow) dari campuran aspal.
-          Aspal Compactor test dan marhal test
-          Batang palu pemadat
-          Beban pemadat
-          Landasan palu pemadat
-          Color
-          Mold
-          Pemegang Palt
-          Landasan
-          Extruder
-          Mesin tekan marhal
-          Kepala penekanan
-          Dial indicator
-          Kompor
-          Bak perendam dengan suhu 20o C
Pemeriksaan Agregat
            Maksud untuk mengetahui ukuran butir dan agradasi agregat dari yang kasar sampai yang halus untuk desigin campuran aspal.
            Peralatan dan bahan yang digunakan:
-          Timbangan
-          Saringan
-          Tempat material (setelah disaring)
-          Oven atau alat lain misalnya: kompor, wajan, sendok
-          Sampel material yaitu yang dari hot 1,2,3,4...........







Send Cone
Maksud untuk menentukan kepadatan lapisan tanah atau pengerasan yang telah dipadatkan tengan cara pengukuran volume secara langsung.
-          Peralatan:  
-          Corong sand cone
-          Botol sand cone
-          Plat lapangan, ukuran 30,48 x 30,48 cm dengan lubang bergaris tengah 16,5 cm
-          Pasir standar
-          Pahat
-          Hammer
-          Sendok tanah
-          Kaleng lapangan
Prosedur Percobaan:
-          Isilah botol sand cone dengan pasir standar
-          Timbang dengan corong, berikut botol gradasi yang telah diisi secukupnya
-          Bersihkan permukaan tanah yang akan digalih dan ratakan permukaanya
-          Letakan plat lapangan dipermukaan tanah dalam posisi yang kokoh
-          Gali lubang yang sesuai dengan diameter lubang plat lapangan dan dalam lubang tersebut = 10 cm gunakan plat, palu dan sendok tanah.
-          Timbang kaleng lapangan yang telah dibersihkan dalam keadaan kosong
-          Masukkan semua tanah hasil galian tersebut ke dalam kaleng lapangan lalu timbang beratnya.
-          Letakkan corong sand cone berikut botol yang telah berisi pasir diatas plat lapangan dalam posisi terbalik
-          Buka kran sand cone sehingga pasir dalam botol tirun melalui corong
-          Setelah pasir berhenti mengalir, turup kran sand cone
-          Ambil tanah dari sebagian lubang lalu masukan ke dalam kaleng untuk diperiksa kadar airnya
-          Timbang corong berikut botol yang berisi sisa pasir di dalamnya
-          Hitung berat jenis pasir
-          Ambil kembali pasir yang megisi lubang tadi
-          Hasil



Core Drill
Untuk mengambil contoh aspal di permukaan jalan yang sudah jadi digunakan alat dan bahan:
-          Mesin
-          Tangki air
-          Selang (kran air)
-          Mata bor
-          Kunci mata bor
-          Landasan atas
-          Skrup pengangkat
-          Mistar (alat ukur tebal lainya)
Langkah pangambilan benda uji:
-          Setelah selesai penghamparan, pemadatan lalu mengambil benda uji core
-          Letakan mesin pada lokasi yang akan diambil contohnya
-          Setelah mesin siap laksanakan pengambilan contoh
-          Pengambilan benda uji yang pada titik telah ditentukan
-          Pada benda uji yang telah di beri label/STA
-          Ukurlah seberapa tebal benda uji itu dengan mistar
-          Hasil core itu diperiksa di laboraturium
-          Sampel kamudian ditimbang
Tack Coat
 Untuk mengetahui beberapa besar tack coat yang dihampar di jalan
Bahan : kertas
Prosedur pengambilan dilapangan:
-          Ambil kertas yang sudah disiapkan
-          Potong kertas itu dengan ukuran 25 x 25cm
-          Letakan kertas tersebut
-          Tulis STA berapa kertas itu dipasang
-          Timbang kertas itu
-          Dipasang dalam posisi yang baik
-          Setelah selesai disemprotkan kertas itu diambil
-          Hasil tack cota itu ditimbang




Extraksi
             Untuk mengontrol kadar aspal dan gradasi dalam setiap kali produksi
Alat dan bahan:
-          Sampel (hasil produksi )
-          Bensin
-          Wadah/ tempat sampel
-          Mesin loas ageless
Prosedur kerja
-          Siapkan sampel dalam hal ini jika sampel dingin terlebih dahulu dipanaskan sampai 140oC
-          Ambil sampel sebanyak 1100gr
-          Campur dengan bensin secukupnya
-          Kemudian masukkan ke dalam mesin
-          Diamkan dalam mesin selama 5 menit
-          Kemudian keluarkan sampel tersebut dari mesin, lalu timbang material dan kertas (filler) hasil
-          Keluarkan




















BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
            Dalam pelaksanaan prajastri dilaksanakan untuk memperdalam teori dilapangan.
Dalam pelaksanaan prajastri dapat melih diri dan menambah pengetahuan dalam melaksanakan prajastri khususnya di lab.
Pelaksanaan prajastri dapat meningkatkan pengalaman tentang dunia industri
Pelaksanaan prajastri dapat meningkatkan motivasi untuk belajar

saran
Dalam pelaksanaan prajastri sebaiknya pihak sekolah aktif mengontrol siswa di tempat prajastri.
Pendalaman teori-teori diharapkan sesuai dengan program keahlian masing-masing. Agar tidak terjadi kesenjangan dalam pelaksanaan praktek kerja industri dilapangan.
Peserta pelaksanaan praktek kerja industri diharapkan mengikuti tata tertib yang ada di perusahaan.


















 DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian dan Pengembangan PU, Standar Nasional Indonesia. Metode Campuran Aspal dengan Alat Marshal, SNI 06-2486-1991;SK SNI M-58-1990-03
Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian dan Pengembangan PU, Standar Nasional Indonesia. Metode Pengujian Berat Jenis Aspal Padat, SNI 06-2411-1991;SK
SNI M-30-1990-F
Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian Pengembangan PU, Standar Nasional Indonesia. Metode Pengujian Berat Jenis dan Penyerapan Air Agregat
Halus, SNI 03-1970-1990;SK SNI M-10-1989-F




Kisah Inspirasi Seorang Suami Yang Berbohong Terhadap Istrinya



Kisah Inspirasi Seorang Suami Yang Berbohong Terhadap Istrinya
Perkimpoian itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami istri itu belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik:“kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik,akhirnya menjadi berisik.
Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.
Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.
Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.
Sang suami berkata kepada sang dokter: “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.
Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran.Akan tetapi sang suami terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan ada pada sang istri.
Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai fulan- yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.
Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.
Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.
Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami istri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya: “Wahai fulan, saya telah bersabar selama Sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik dan shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama Sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan”. Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.
Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata: “istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti …”. Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di hadapannya.
Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”.
Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.
Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal.
Mendengar keterangan tersebut, jatuhnya psikologis sang istri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan … saya kan …”.
Sang istri pun bad rest di rumah sakit.
Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”.
“Haah, pergi?”. Kata sang istri.
“Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat”. Kata sang suami.
Sehari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.
Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya: “Suami apa an dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi”.
Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.
Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidak ada lain orang melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.
Dan subhanallah …
Setelah Sembilan (9) bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.
Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syari’ah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.
Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanyadan membacanya.
Hamper saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelpon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya,ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telpon istrinya dengan menangis pula.
Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.
selang beberapa waktu sang isteri meninggal dunia karena kelainan pada organ ginjalnya
betapa terpukulnya sang suami dan sejak saat itulah sang suami berjanji akan merawat anak semata wayangnya dan tak akan menikah lagi demi cintanya pada sang istri ..
















KETA'ATAN ISTRI PADA SANG SUAMI


Sore itu sembari menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar. Kulihat seseorang yang berpakaian rapi, berjilbab dan tertutup sedang duduk disamping masjid. Kelihatannya ia sedang menunggu seseorang juga. Aku mencoba menegurnya dan duduk disampingnya, mengucapkan salam, sembari berkenalan.

Dan akhirnya pembicaraan sampai pula pada pertanyaan itu. “Anti sudah menikah?”.
“Belum ”, jawabku datar.

Kemudian wanita berjubah panjang (Akhwat) itu bertanya lagi “kenapa?”
Pertanyaan yang hanya bisa ku jawab dengan senyuman. Ingin kujawab karena masih hendak melanjutkan pendidikan, tapi rasanya itu bukan alasan.

“Mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya.
“Menunggu suami” jawabnya pendek.

Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya “Mbak kerja di mana?”

Entah keyakinan apa yang membuatku demikian yakin jika mbak ini memang seorang wanita pekerja, padahal setahu ku, akhwat-akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.

“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.

“Kenapa?” tanyaku lagi.
Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah PINTU AWAL kita wanita karir yang bisa membuat kita lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.

Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.

Saudariku, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah hanya ingin didatangi oleh laki-laki yang baik-baik dan sholeh saja.

“Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7 juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari dan es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Kamu tahu kenapa ?

Waktu itu jam 7 malam, suami saya menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Setibanya dirumah, mungkin hanya istirahat yang terlintas dibenak kami wanita karir. Ya, Saya akui saya sungguh capek sekali ukhty. Dan kebetulan saat itu suami juga bilang jika dia masuk angin dan kepalanya pusing. Celakanya rasa pusing itu juga menyerang saya. Berbeda dengan saya, suami saya hanya minta diambilkan air putih untuk minum, tapi saya malah berkata, “abi, umi pusing nih, ambil sendiri lah !!”.

Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya.

Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya (kami memang berkomitmen untuk tidak memiliki khodimah)? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga.

Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi demam, tinggi sekali panasnya. Saya teringat perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air putih saja saya membantahnya. Air mata ini menetes, air mata karena telah melupakan hak-hak suami saya.”

Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yang di usapnya.

“Kamu tahu berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700 rb/bulan. Sepersepuluh dari gaji saya sebulan. Malam itu saya benar-benar merasa sangat durhaka pada suami saya.

Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya dengan ikhlas dari lubuk hatinya. Setiap kali memberikan hasil jualannya, ia selalu berkata “Umi, ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan Umi ridho”, begitulah katanya. Saat itu saya baru merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong dan durhaka pada nafkah yang diberikan suami saya, dan saya yakin hampir tidak ada wanita karir yang selamat dari fitnah ini”

“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu sering begitu susah jika tanpa harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya" Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.

“Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua, dan saudara-saudara saya justru tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Sesuai dugaan saya, mereka malah membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan yang lain.”

Aku masih terdiam, bisu mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.

“Kak, bukankah kita harus memikirkan masa depan ? Kita kerja juga kan untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini mahal. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah.

Salah kakak juga sih, kalo mau jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali mengalir, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.

“anti tau, saya hanya bisa menangis saat itu. Saya menangis bukan karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, Demi Allah bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya sudah DIPANDANG RENDAH olehnya.

Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia ?
Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud dimalam hari ?
Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya ?
Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan ?
Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah di hadapannya hanya karena sebuah pekerjaaan ?

Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya.
Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya.
Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya.

Saya berharap dengan begitu saya tak lagi membantah perintah suami saya. Mudah-mudahan saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga dengan pekerjaan suami saya ukhty, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan seperti itu.

Disaat kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tetapi suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya.

Suatu saat jika anti mendapatkan suami seperti suami saya, anti tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anti pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku. Mengambil tas laptopnya, bergegas ingin meninggalkanku.

Kulihat dari kejauhan seorang laki-laki dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, wanita itu meninggalkanku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.

Ya Allah….
Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling berkesan dalam hidupku. Pelajaran yang membuatku menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku..Subhanallah..Walhamdulillah..Wa Laa ilaaha illallah...Allahu Akbar

Semoga pekerjaan, harta dan kekayaan tak pernah menghalangimu untuk tidak menerima pinangan dari laki-laki yang baik agamanya..